Kisah Petualangan Wartawan Perang

Edisi: 07/24 / Tanggal : 1994-04-16 / Halaman : 51 / Rubrik : BK / Penulis : LPS


Nama Peter Arnett tak bisa dilepaskan dari Perang Teluk. Ia tidak ikut berperang, tetapi dialah yang menginformasikan perang itu dalam hitungan detik per detik, sebagai reporter jaringan televisi terkenal CNN. Namun, petualangan Peter Arnett tak cuma di Baghdad. Ia pernah meliput Perang Vietnam. Bahkan sebelum itu, jauh sebelum ia bekerja di CNN, ia pernah bertugas di Jakarta sebagai wartawan AP. Di sini ia dekat dengan tokoh-tokoh politik, termasuk Subandrio. Anekdotnya selama bertugas di Jakarta, Vietnam, dan awal-awal Perang Teluk kami nukilkan berikut ini dari buku Peter Arnett: Live from Battlefield: From Vietnam to Baghdad.

Mengawali Karier di Jakarta
SAYA dikontrak Associated Press untuk menjadi korespondennya di Jakarta pada 1961. Honornya lumayan, US$ 8,50 per minggu. Untuk memperoleh tiket dari Bangkok ke Jakarta, saya harus membarter dengan tiga artikel wisata yang mempromosikan perusahaan penerbangan Thailand.

Bos saya adalah Don Huth, yang sudah berpengalaman soal negara-negara di Asia. Pria berambut putih potongan cepak itu pernah bertugas sebagai wartawan di India dan Filipina sebelum mendapat tugas eksekutif di Singapura. Orang-orang AP yang bermarkas di New York menyarankan agar dia menyewa wartawan Asia untuk bertugas di Jakarta. Dengan begitu, mereka lebih tanggap dengan denyut perubahan politik di tempat tugas. Tapi, menurut Don, saya lebih bisa membantunya, dan bayarannya tidak lebih mahal daripada memakai orang Asia. Ia menyebut saya orang yang "cepat panas" dan bisa memenuhi keinginannya untuk "bangun tidur langsung kerja".

Saya mencoba memenuhi keinginan itu. Tiap hari saya mengambil bahan di Antara, kantor berita pemerintah Indonesia, dan dari koran lokal. Saya menulis sejumlah cerita "yang aneh-aneh", dari wayang, mistik pura di Bali, sampai upacara menuai padi di Bogor. Saya mewawancarai pengunjung dari berbagai generasi. Belakangan saya tahu, editor AP di Tokyo dan New York membuang lebih dari separuh bahan yang saya kirim dari Indonesia. Berita-berita itu dianggap sampah.

Biro AP terletak di rumah bobrok dari kayu di pinggiran kumuh Jalan Gajah Mada di belakang hotel kuno Des Indes -- pada zaman kolonial dulu merupakan tempat yang menarik. Manajer kantornya seorang Hindu dari Bengali bernama K.R. Ramanath. Ramanath beroperasi sendiri di Jakarta selama dua tahun dan menulis naskahnya untuk Don Huth di Singapura. Ia melihat saya sebagai ancaman bagi status yang sudah dibinanya dengan pejabat pemerintah dan masyarakat setempat.

Ia "menghukum" saya dengan cara memperlambat honor, tak memberi tahu kalau ada konferensi pers penting dan meliputnya sendiri, membuang undangan untuk saya ke keranjang sampah, dan pergi diam-diam ke pesta diplomatik. Saya dipermalukan Ramanath, tapi saya tidak melawannya. Bagi saya, dia tenaga hebat yang digaji rendah.

Berita-berita kami terpusat pada figur Soekarno. Presiden setengah baya ini adalah sosok yang menarik di panggung dunia dengan seragam militer, tongkat komando, dan peci hitam yang bertengger di kepalanya. Presiden Kennedy menyebut Soekarno "George Washington dari Indonesia" dan menghadiahinya sebuah helikopter untuk keperluan pribadi.

Ketika Robert Kennedy mengunjungi Indonesia, Februari 1962, Jakarta diselimuti protes. "Kennedy Go Home", begitulah goresan cat di dinding sejumlah bangunan, sementara kedutaan dikepung oleh demonstran yang marah. Keamanan diperketat, tentara bersenjata disebar ke seluruh penjuru kota. Biro Singapura menyampaikan kawat berisi petunjuk detail cara mengumpulkan berita penting ini dan mengirim seorang tukang potret, Fred Waters. Ia seorang profesional yang pernah meliput perang dan revolusi di Asia selama lebih dari sepuluh tahun.

Pemunculan Robert Kennedy yang pertama di muka umum adalah di Universitas Indonesia. Di kampus itu, Kennedy menghadapi kerusuhan dewan mahasiswa dengan humor, yang kadang-kadang keras tapi juga menarik. Isu yang sedang marak saat itu adalah tuntutan terhadap Belanda agar mengembalikan daerah jajahan Irian Barat ke Indonesia. Dengan nada yang terkontrol, Kennedy mengatakan, "Kami telah menjadi teman lama Belanda, tapi kami tidak ragu-ragu mempersoalkan itu. Orang Belanda termasuk rombongan pertama yang datang dan menetap di negeri kami dan mereka menemukan kota terbesar kami, New York, yang mereka sebut New Amsterdam. Namun, kami memiliki hubungan yang erat dengan rakyat Indonesia."

Ketika itu, saya duduk tenang di sudut panggung. Tiba-tiba saya melihat seorang lelaki kurus menerobos kerumunan. Ia melemparkan sesuatu dan tepat mengenai hidung Kennedy. Tentu saja Kennedy terkejut. Ia berhenti bicara. Pihak keamanan segera mengusir perusuh itu. Kennedy mencoba menguasai keadaan, dan kemudian mempercepat pidatonya.

Ketika saya kembali ke kantor, Fred Waters sedang di kamar gelap. Tak lama kemudian, ia membaca naskah saya dan berteriak, "Apa-apaan ini?" Laporan saya dimulai dengan, "Robert Kennedy, saudara kandung presiden, dilempari telur goreng ketika ia memulai perjalanan seminggunya di Indonesia, hari ini, dengan berpidato di aula universitas."

Fred ternyata tidak punya foto insiden itu karena peristiwa itu terjadi tanpa terduga oleh siapa pun. Namun, dengan keterangan rinci dalam berita saya itu bahwa "Kennedy dilempari telur goreng", pastilah dibutuhkan foto, dan Fred tahu dialah yang mesti bertanggung jawab soal foto. Ia menekan saya, dan mengatakan bahwa orang lain menyebut Kennedy bukan dilempari telur, melainkan buah. Tapi saya meyakinkan bahwa saya melihat jelas sisa-sisa telur di atas panggung. Saya menuliskan itu secara detail. Saya anggap rincian itu menjadi nilai lebih naskah saya ketimbang laporan UPI, dan akan mengundang koran lain mengutipnya.

Benar saja, esok paginya kantor New York mengabarkan bagaimana populernya cerita saya. Namun, ada tambahan pesan dari bagian foto kantor pusat: "Perlu foto telur goreng yang dilempar ke Kennedy, secepatnya." Fred tak bisa menyediakannya dan menyarankan agar lain kali saya tidak usah terlalu rinci kalau membuat berita.

Ketika melaporkan kunjungan Kennedy ke Bali, saya menulis begini, "Robert dan Ethel Kennedy mengakhiri kunjungannya ke Indonesia hari ini dengan muhibah singkat ke Pulau Bali. Di pulau itu, petani-petani perempuan yang bertelanjang dada melambaikan tangan ke iring-iringan tamu dari sawah-sawah di sepanjang jalan." Ketika kami pulang ke Jakarta, malamnya masuk lagi kawat dari kantor New York untuk Fred: "Perlu segera foto perempuan Bali yang bertelanjang dada." Lagi-lagi Fred memaki saya.

Saya mencoba minta maaf, tapi Fred tampaknya tak bisa memaafkan. Ia mengirim catatan ke New York bahwa tidak ada cewek-cewek bertelanjang dada yang melambai ke arah Kennedy. Ia menantang saya untuk membuktikan itu. Wanita-wanita itu, kata saya, memang tidak secara khusus diorganisasi untuk mengucapkan selamat datang kepada Kennedy. Namun, saya melihat wanita-wanita itu melambai dari sawah sebagai reaksi spontan terhadap iring-iringan kendaraan yang mengesankan mereka. Fred tampaknya bukan manusia pendendam. Jadi, kami berpisah baik-baik ketika ia pulang beberapa hari kemudian.

Dalam perjalanan saya ke pelosok-pelosok pulau, saya tak punya pilihan kecuali makan di rumah-rumah makan setempat. Saya jadi sering terkena diare. Inilah "pajak" yang mesti saya bayar untuk mendapat petualangan yang menarik. Untuk melindungi diri, saya terpaksa minum obat-obatan. Salah satu obat itu adalah obat sakit perut, tablet sulfur kuning. Saya terus-menerus menenggak obat itu sampai suatu ketika, sambil mengendarai becak ke Kedutaan Amerika, perut saya melilit. Saya merintih kesakitan.

Di rumah sakit Cikini, dokter berkebangsaan Cina mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan ginjal saya. Karena itu, saya dibatasi hanya boleh minum sedikit untuk mencegah naiknya kadar nitrogen yang dapat membahayakan tubuh.

Dua hari kemudian, dalam ruang yang pengap tanpa penyejuk ruangan, dokter mengatakan kandungan nitrogen dalam darah saya menanjak tajam karena saya tidak buang air. Agar jiwa saya selamat, katanya, saya diminta memikirkan transplantasi ginjal, operasi yang sebelumnya tidak pernah sukses di mana-mana (ketika itu). Mulut saya kering dan badan saya kerontang. Rasanya saya bakal mati karena kehausannya, bukan oleh sebab lain. Namun, perawat berkeras bahwa saya hanya boleh minum tidak lebih dari sesendok teh air gula yang dicatunya.

Suatu siang, seorang perawat muda melewati koridor dengan gerobak makanan. Di dalamnya ada segelas besar air jeruk segar untuk pasien yang mulai membaik.…

Keywords: -
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

T
Tamparan untuk Pengingkar Hadis
1994-04-16

Penulis: m.m. azami penerjemah: h. ali mustafa yakub jakarta: pustaka firdaus, 1994. resensi oleh: syu'bah…

U
Upah Buruh dan Pertumbuhan
1994-04-16

Editor: chris manning dan joan hardjono. canberra: department of political and social change, australian national…

K
Kisah Petualangan Wartawan Perang
1994-04-16

Nukilan buku "live from battlefield: from vietnam to bagdad" karya peter arnett, wartawan tv cnn.…