Bagaikan Teluk Di Ujung Tanduk
Edisi: 06/21 / Tanggal : 1991-04-06 / Halaman : 93 / Rubrik : EB / Penulis :
SEBAGIAN kalangan pemilik modal konon masih ragu, apakah benar tidak akan ada devaluasi. Dua indikator yang tetap mereka pantau ialah apakah target ekspor tahun anggaran baru yang dimulai 1 April pekan ini akan tercapai.
Dalam Nota Keuangan RAPBN 1991/1992, Pemerintah mengharapkan ekspor akan meraih devisa US$ 29.493 juta. Dari komoditi-komoditi nonmigas diharapkan sebesar US$ 18.784 juta. Sedangkan dari ekspor migas (minyak dan gas bumi) US$ 10.709 juta.
Sektor-sektor itu sekilas tampak seperti telur di ujung tanduk. Harga minyak Maret lalu, tergelincir sampai sekitar US$ 17,20, padahal harga patokan APBN berkisar pada US$ 19 per barel. Memang, Menteri Pertambangan & Energi Ginandjar Kartasasmita optimistis, harga minyak akan sesuai dengan target APBN.
Yang jelas, untuk itu Ginandjar harus berjuang agar OPEC bisa mengganjal harga minyak. Dan, tampaknya, sulit. Karena itu, untuk sumber penerimaan devisa, agaknya, Pemerintah harus berpaling pada ekspor nonmigas kendati sumber ini pun tidak sepenuhnya bisa diandalkan.
Soalnya kini, apakah ekspor nonmigas bisa dipacu. Sebelumnya, memang ada keraguan tentang itu. Alasannya, ekonomi Amerika terkena resesi dalam…
Keywords: Max Wangkar, Ekspor Non Migas, RAPBN 1991/1992, Ginandjar Kartasasmita, OPEC, Arifin Siregar, Hadi Soesastro, Alan Greenspan, Norio Mihira, 
Artikel Majalah Text Lainnya
SIDANG EDDY TANSIL: PENGAKUAN PARA SAKSI ; Peran Pengadilan
1994-05-14Eddy tansil pembobol rp 1,7 triliun uang bapindo diadili di pengadilan jakarta pusat. materi pra-peradilan,…
Seumur Hidup buat Eddy Tansil?
1994-05-14Eddy tansil, tersangka utama korupsi di bapindo, diadili di pengadilan negeri pusat. ia bakal dituntut…
Sumarlin, Imposibilitas
1994-05-14Sumarlin, ketua bpk, bakal tak dihadirkan dalam persidangan eddy tansil. tapi, ia diminta menjadi saksi…